PRentanreaksicepat.com
Di Kota Bandung, tercatat 38.735 pelanggaran di perlintasan kereta api sepanjang 2025, meski turun 13,2% dibanding tahun sebelumnya.
Data dari Bandung Siaga 112 dan Dinkes menunjukkan masih terjadi insiden, terutama di JPL Andir dan Cimindi yang melibatkan pejalan kaki, sehingga risiko kecelakaan tetap tinggi pada perlintasan sebidang.
Menanggapi hal ini, komunitas Edan Sepur Bandung bersama berbagai pihak termasuk Polrestabes Bandung dan Railfans Cimahi melakukan edukasi keselamatan, termasuk program SALUD di lebih dari 20 sekolah dengan 3.000 peserta pada 2025.
Kegiatan ini dilanjutkan pada 2026 dengan fokus di JPL Gedebage setelah penutupan titik lain, guna menekan angka kecelakaan dan meningkatkan disiplin masyarakat saat melintasi rel kereta api.
Pelanggaran perlintasan kereta api di Kota Bandung menurun 13,2% pada 2025, meskipun risiko kecelakaan tetap tinggi di titik rawan seperti JPL Andir dan Cimindi akibat keterlibatan pejalan kaki. Komunitas Edan Sepur bersama aparat setempat meningkatkan edukasi keselamatan dan menargetkan fokus pencegahan di JPL Gedebage selama 2026. Untuk detail selengkapnya, kunjungi Ayobandung.com.
Berdasarkan informasi tersebut, berikut adalah penjelasan mengenai alasan di balik situasi tersebut serta harapan dan pembekalan ke depannya:
Mengapa demikian? (Penyebab & Kondisi)
Penurunan Pelanggaran: Penurunan sebesar 13,2% menunjukkan bahwa upaya edukasi (seperti program SALUD di sekolah) dan pengawasan mulai membuahkan hasil dalam mengubah perilaku masyarakat.
Risiko Tetap Tinggi: Meskipun pelanggaran turun, titik seperti JPL Andir dan Cimindi masih rawan karena tingginya mobilitas pejalan kaki yang sering kali kurang waspada atau nekat menerobos perlintasan sebidang.
Pergeseran Fokus ke Gedebage: Fokus beralih ke JPL Gedebage pada 2026 karena adanya penutupan titik-titik lain, sehingga volume kendaraan dan potensi pelanggaran kemungkinan besar akan menumpuk di lokasi tersebut.
Harapan ke Depan
Zero Accident: Menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang hingga mencapai titik nol (zero accident).
Kemandirian Disiplin: Masyarakat diharapkan patuh bukan karena ada petugas atau komunitas seperti Edan Sepur, melainkan karena kesadaran akan keselamatan diri sendiri.
Sinergi Berlanjut: Kolaborasi antara komunitas, kepolisian (Polrestabes), dan pihak kereta api tetap konsisten dalam melakukan pengawasan.
Pembekalan bagi Masyarakat
Untuk mendukung peningkatan disiplin, pembekalan yang diberikan melalui edukasi (seperti program SALUD) meliputi:
Prioritas Kereta Api: Memahami bahwa secara hukum, kereta api memiliki prioritas utama di perlintasan sebidang.
Berhenti, Tengok Kanan-Kiri: Menanamkan kebiasaan berhenti sejenak sebelum melintas, bahkan jika palang pintu belum turun.
Bahaya di Jalur Pejalan Kaki: Edukasi khusus bagi pejalan kaki agar tidak beraktivitas di sekitar rel (seperti memakai headset atau berfoto) yang dapat mengurangi kewaspadaan.
Anggani Puspa Adha










